Cari Pembahasan Ini

Loading...

Select Language

Tuesday, 24 July 2012

DINASTI ABBASIYAH

A. SEJARAH BERDIRINYA DINASTI ABBASIYAH
Dinasti Abbasiyah didirikan pada tahun 132 H/750 M, oleh Abul Abbas Ash-Shafah yang sekaligus sebagai khalifah pertama. Kekuasaan dinasti Abbasiyah berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, yaitu selama lima abad dari tahun 132-656 H (750-1258 M). berdirinya pemerintahan ini dianggap sebagai kemenangan pemikiran yang pernah dikumandangkan oleh Bani Hasyim (Alawiyun) setelah meninggalnya Rasulullah dengan mengatakaan bahwa yang berhak untuk berkuasa adalah keturunan Rasulullah dengan mengatakan bahwa yang berhak untuk berkuasa adalah keturunan Rasulullah dan anak-anaknya.
Propaganda Abbasiyah dilaksanakan dengan strategi yang cukup matang sebagai gerakan rahasia. Akan tetapi Imam Ibrahim pemimpin Abbasiyah yang berkeinginan mendirikan kekuasaan Abbasiyah, gerakannya diketahui oleh khalifah Umayyah terakhir yaitu Marwan bin Muhammad. Ibrahim tertangkap oleh pasukan Dinasti Umayyah dan dipenjarakan di Haran sebelum akhirnya di eksekusi. Ia mewasiatkan kepada adiknya yaitu Abul Abbas untuk menggantikan kedudukannya ketika tahu ia akan dibunuh dan memerintahkan untuk pindah ke Kufah. Dan pemimpin propaganda dibebankan kepada Abu Salamah.
Penguasa Umayyah di Kufah, Yazid bin Umar bin Hubairah ditaklukkan oleh Abbasiyah dan diusir ke Wasit. Abu Salamah selanjutnya berkemah di Kufah yang telah ditaklukkan. Abdullah bin Ali, salah seorang paman Abul abbas diperintahkan untuk mengejar khalifah Umayyah terakhir, Marwan bin Muhammad bersama pasukannya yang melarikan diri. Khalifah ini terus menerus melarikan diri hingga ke Fustat di Mesir dan akhirnya terbunuh di Busir wilayah Al-Fayyum, tahun 132 H/750 M. dengan demikian maka tumbanglah kekuasaan dinasti Umayyah dan berdirilah Dinasti Abbasiyah yang dipimpin oleh khalifah pertamanya, yaitu Abul Abbas Ash-Shafah dengan pusat kekuasaan awalnya di Kufah.
Selama dinasti Abbasiyah berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Berdasarkan perubahan tersebut, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbasiyah dalam empat periode :
1.      Masa Abbasiyah I, yaitu semenjak lahirnya Daulah Abbasiyah tahun 132 H/750 M  sampai meninggalnya daulah khalifah Al-Watsiq 232 H/847 M
2.      Masa Abbasiyah II, yaitu mulai khalifah Al-Mutawakkil pada tahun 232 H/847 M sampai berdirinya daulah Buwaihiyah di Baghdad tahun 334 H/946 M
3.      Masa Abbasiyah III, yaitu dari berdirinya daulah Buwaihiyah tahun 334 H sampai masuknya kaum Saljuk ke Baghdad tahun 447 H/1055 M
4.      Masa Abbasiyah IV, yaitu masuknya orang-orang Saljuk ke Baghdad tahun 447 H/1055 M sampai jatuhnya Baghdad ke tangan bangsa Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan tahun 656 H/1258 M
Dalam sudut pandang lain, dikatakan bahwa perkembangan daulah Abbasiyah dibagi menjadi tiga periode, yakni pertama, tahun 132-232 H dimana para khalifah Abbasiyah berkuasa penuh. Semua wilayah Islam berada di tangan kekuasaan Abbasiyah terkecuali Andalusia yang ada di bawah Bani Umayyah. Kedua, tahun 232-590 H tatkala kekuasaan para khalifah Abbasiyah sebenarnya berada di tangan orang lain yakni di tangan orang-orang Turki (Atrak), Bani Buwaih dan Bani Saljuk. Ketiga, tahun 590-659 H kembalinya kekuasaan Abbasiyah di tangan mereka tetapi wilayah kekuasaannya menyempit, yaitu hanya di sekitar Baghdad saja.
B.    SISTEM PEMERINTAHAN ABBASIYAH
Kekhalifahan Bani Abbas bertumpu pada banyak sistem yang pernah dipraktekkan oleh bangsa-bangsa sebelumnya baik yang muslim maupun non-muslim. Dasar-dasar pemerintahan Abbasiyah diletakkan oleh khalifah kedua, Abu Ja’far Al-Mansur yang dikenal sebagai pembangun khilafah tersebut. Sedangkan sebagai pendiri Abbasiyah ialah Abul Abbas as-Shaffah. Dukungan dan sumbangan bangsa Persia kentara sekali ketika Abbasiyah berdiri dengan munculnya Abu Muslim Al-Khurrasani dan memang wilayah operasional bangsa ini berada di bekas reruntuhan kerajaan Persia. Kebangkitan orang-orang Persia itu antara lain juga karena sudah bosannya mereka terhadap kebijaksanaan pemerintah Umayyah yang diskriminatif terhadap bangsa non-Arab yang menjadikan mereka warga negara kelas dua (kaum mawalli). Maka tidak mengherankan bila kekhalifahan Abbasiyah mengambil nilai-nilai Persia dalam sistem pemerintahannya. 
Bangsa Persia mempercayai adanya hak agung raja-raja yang didapat Tuhan, oleh karena itu para khalifah Abbasiyah memperoleh kekuasaan untuk mengatur negara langsung dari Allah bukan dari rakyat yang berbeda dari sistem kekhalifahan yang diterapkan oleh Khulafaurrasyidin yang dipilih oleh rakyat. Kekuasaan tertinggi mereka diletakkan pada ulama, sehingga pemerintahannya merupakan sistem teokrasi. Pada periode pertama, pemerintahan Bani Abbas mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Kemakmuran rakyat mencapai tingkat tertinggi.
 Setelah pemerintahan Abul Abbas (750-754 M) yang relatif sangat singkat, dilanjutkan dengan pemerintahan Abu Ja’far Al-Mansur (754-775 M). dengan keras dia hadapi lawan-lawannya dari Umayyah, Khawarij, dan juga Syi’ah yang merasa dikucilkan dari kekuasaan. Pada mulanya ibu kota negara adalah Al-Hasyimiyah, dekat Kufah. Namun untuk lebih memantapkan dan menjaga stabilitas negara yang baru berdiri itu, Al-Manshur memindahkan ibu kota negara ke kota yang baru di bangunnya, yaitu Baghdad. Disini Al-Mansur melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya. Dia mengangkat sejumlah personal untuk menduduki jabatan di lembaga eksekutif dan yudikatif. Di bidang pemerintahn ini, dia menciptakan tradisi baru dengan mengangkat seorang wazir sebagai koordinator departemen. Dia juga membentuk lembaga protokol negara, sekretaris negara dan kepolisian disamping membenahi angkatan bersenjata.
Popularitas daulah Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun Ar-Rasyid (786-809 M) dan putranya Al-Ma’mun (813-833 M). tingkat kemakmuran yang paling tinggi terwujud pada zaman khalifah ini. Kesejahteraan sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan serta kesusastraan berada pada zaman keemasannya. Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi.
PARA KHALIFAH DINASTI ABBASIYAH
Sistem pengangkatan putra mahkota dalam dinasti ini, mengikuti cara Dinasti Bani Umayyah. Namun ada pemakaian gelar bagi para khalifahnya, seperti Abu Ja’far. Ia memakai gelar Al-Manshur. Para khalifah bani Abbasiyah berjumlah 37 khalifah, mereka adalah :
NO
KHALIFAH
NO
KHALIFAH
1
Abul Abbas Ash-Shafah
20
Abul abbas Ahmad Ar-Radi
2
Abu Ja’far Al-Manshur
21
Abu Ishaq Iabrahim Al-Muttaqi
3
Abu Abdullah Muhammad Al-Mahdi
22
Abul Qasim Abdullah Al-Mustaqfi
4
Abu Muhammad Musa Al-Hadi
23
Abul Qasim Al-Fadl Al-Mu’ti
5
Abu Ja’far Harun Ar-Rasyid
24
Abul Fadl Abdul Karim At-Thai
6
Abu Musa Muhammad Al-Amin
25
Abul Abbas Ahmad Al-Qadir
7
Abu Ja’far Abdullah Al-Ma’mun
26
Abu Ja’far Abdullah Al-Qaim
8
Abu Ishaq Muhammad Al-Mu’tashim
27
Abul Qasim Abdullah Al-Muqtadi
9
Abu Ja’far harun Al-Watsiq
28
Abul Abbas Ahmad Al-Mustadzir
10
Abu Fadl ja’far Al-Mutawakil
29
Abu Manshur Al-Fadl Al-Mustarsyid
11
Abu Ja’far Muhammad Al-Muntashir
30
Abu Ja’far Al-Mansur Ar-Rasyid
12
Abul Abbas Ahmad Al-Musta’in
31
Abu Abdullah Muhammad Al-Muqtafi
13
Abu Abdullah Muhammad Al-Mu’taz
32
Abul Mudzafar Al-Mustanjid
14
Abu Ishaq Muhammad Al-Muhtadi
33
Abu Muhammad Al-Hasan Al-Mustadi
15
Abul Abbas Ahmad Al-Mu’tamid
34
Abul Abbas Ahmad An-Nasir
16
Abuk Abbas Ahmad Al-Mu’tadid
35
Abu Nasr Muhammad Az-Zahir
17
Abul Muhammad Ali Al-Muktafi
36
Abu Ja’far Al-Mansur Al-mustansir
18
Abul Fadl Ja’far Al-Muqtadir
37
Abu Abdullah Al-Mu’tashim Billah
19
Abu Mansur Muhammad Al-Qahir







1 comment: